Membangun Positivity
M. Jojo Rahardjo is a prolific writer and the founder of Mindset Emas, a neuroscience-based mental health initiative. Page ini ditulis oleh M. Profile M.
More about him: https://www.linkedin.com/in/m-jojo-rahardjo/ Jojo Rahardjo, satu-satunya yang telah menulis ratusan artikel dan video sejak 2015 tentang perkembangan neuroscience. Jojo Rahardjo saat ini sedang mengembangkan aplikasi bernama Mindset Emas yang nantinya bisa dimanfaatkan oleh semua lapisan masyarakat. Jojo Rahardjo yang lebih detil bisa disimak di sini:
https://www.linkedin.com/in/m-
06/03/2026
ORANG DENGAN KESEHATAN MENTAL YANG BAIK = ORANG YANG EASYGOING
04/03/2026
4️. Benefit Meditasi untuk Kesehatan Tubuh
(Pernahkah Anda memeriksa tekanan darah Anda sebelum & sesudah meditasi? Cobalah dan Anda akan melihat bagaimana tekanan darah Anda akan cenderung normal setelah meditasi yang singkat saja. Tentu masih ada lagi temuan sains tentang benefit meditasi bagi kesehatan tubuh, seperti turunnya tingkat cortisol (hormon stres) yang sering menjadi akar berbagai penyakit serius)
04/03/2026
3. Benefit Meditasi untuk Kesehatan Mental
(Kesehatan mental mempengaruhi kognitif atau kecerdasan, begitu juga sebaliknya, yaitu kognitif dapat mempengaruhi kesehatan mental. Sulit untuk berharap pada adanya kognitif yang memadai pada mereka yang kesehatan mentalnya terganggu. Misalnya: jika Anda mudah stres, lalu kemampuan Anda memecahkan masalah akan terganggu. Misal yang lain lagi: jika Anda cenderung pada mind-wandering yang liar atau rumination/overthinking yang sulit dikontrol, maka sulit bagi Anda untuk bisa fokus pada hal-hal yang penting. Apalagi jika emotion regulation Anda buruk)
04/03/2026
2️. Benefit Meditasi untuk Kesehatan Otak
(Ada banyak terapi yang tersedia untuk mempertahankan otak Anda agar selalu dalam kondisi prima, namun terapi seperti itu mahal. Padahal jika Anda memahami bagaimana otak Anda bisa dipengaruhi secara positif oleh meditasi, maka Anda akan mulai sekarang juga berlatih meditasi, karena berlatih meditasi adalah gratis dan bisa Anda lakukan di mana saja, bahkan kapan saja). Intinya Anda bisa menurunkan potensi terkena dementia atau Alzheimer)
04/03/2026
1️. Benefit Meditasi dalam Situasi Sulit/Kritis
(Jika Anda sudah terlatih melakukan meditasi untuk waktu yang lama, maka secara otomatis di situasi sulit/kritis yang akan Anda lakukan "pertama kali" adalah meditasi, bukan yang lain)
28/02/2026
Saat meditasi mendalam, batas antara “aku” dan dunia bisa terasa menipis. Neurosains menunjukkan aktivitas area pembentuk sense of self, seperti Default Mode Network dan posterior superior parietal lobule, menurun. Pikiran menjadi lebih tenang/hening dan muncul rasa menyatu dengan apapun. Oneness bukan mistik semata, tetapi fenomena otak yang bisa dilatih.
28/02/2026
MELURUSKAN JEFFREY EPSTEIN?
Jauh sebelum Departemen Kehakiman Amerika baru-baru ini membuka jutaan halaman informasi yang berkaitan dengan Epstein, di tahun 2008 teori konspirasi (hoax, disinformation, fake news) seputar Epstein sudah muncul di berbagai media.
1. Kasus Epstein meledak bukan karena peradaban Barat berhasil menyembunyikan kebusukan, melainkan justru karena sistem hukum dan media tidak mampu menutupinya.
2. Sebaliknya, di banyak negara dengan penegakan hukum dan demokrasi yang belum matang, kejahatan seksual terhadap anak sering kali lebih mudah ditutupi, dinormalisasi, atau diredam oleh struktur sosial, budaya, dan kekuasaan, bahkan dilestarikan.
3. Ironisnya, setelah kasus Epstein mengguncang dunia, banyak tokoh berpengaruh di Indonesia tetap memilih diam terhadap kasus-kasus pedofilia di dalam negeri, meskipun dampaknya nyata dan berulang.
4. Sebagian besar kisah tentang Jeffrey Epstein yang beredar di publik lebih banyak berada dalam kategori misinformation, disinformation, atau narasi sensasional, bukan hasil pembacaan serius terhadap sumber primer.
5. Banyak pembaca mengonsumsi kisah Epstein melalui media atau penulis yang tidak secara langsung membaca dokumen asli seperti Epstein Files, transkrip pengadilan, atau rilis resmi Departemen Kehakiman AS.
6. Data resmi mengenai Epstein mencakup jutaan halaman dokumen yang dirilis oleh DOJ dan lembaga hukum lainnya. Data sebesar ini tidak mungkin dipahami tanpa pendekatan analitis yang menyerupai big data analysis.
7. Hanya sebagian kecil dari pemberitaan yang benar-benar berusaha obyektif dan tidak menjadikan sensasi sebagai komoditas utama.
8. Dalam konteks media berbahasa Indonesia, banyak artikel merupakan terjemahan tidak langsung, ringkasan berlapis, atau kutipan dari media lain yang juga tidak merujuk ke sumber asli.
9. Kondisi ini menciptakan lingkungan yang subur bagi teori konspirasi dan narasi spekulatif yang sulit diverifikasi.
10. Jika kasus Epstein dilihat dari sudut pandang psikologi, neurosains, dan personality disorder, maka inti kasus ini terutama berkaitan dengan gangguan kepribadian antisosial, kebutuhan akan dominasi, dan eksploitasi sistemik. Kasus Epstein bukan jaringan konspirasi global yang terstruktur.
11. Klaim bahwa Epstein adalah agen intelijen atau bagian dari operasi rahasia berskala besar memerlukan bukti luar biasa, yang hingga kini tidak tersedia dalam sumber primer yang kredibel.
12. Tidak ada bukti hukum yang memadai untuk menuduh secara kolektif tokoh dunia, ilmuwan, selebriti, atau figur berkuasa sebagai bagian dari kejahatan seksual Epstein terhadap anak-anak.
13. Epstein adalah pelaku utama yang memanfaatkan celah sistem, relasi sosial, dan kekuasaan, sambil berharap tidak menjadi satu-satunya pelaku yang terseret ke permukaan. Itu sebuah pola yang umum dalam kejahatan seksual elit.
Baca selanjutnya di sini: https://www.kompasiana.com/mjr/6988ad3ac925c455c301bb83/meluruskan-jeffrey-epstein
21/02/2026
Page Membangun Positivity sudah tidak terhitung membuat konten tentang pentingnya praktik bersyukur yang telah diajarkan oleh berbagai agama atau ajaran spiritualitas.
Sains menemukan praktik bersyukur adalah praktik untuk meningkatkan kemampuan dalam mengenali adanya berbagai hal positif dalam diri kita atau di sekitar kita atau juga yang tersembunyi.
Beberapa orang mengatakan: memahami praktik bersyukur yang seperti itu adalah praktik toxic positivity yang tidak rasional. Namun mereka lupa, manusia memiliki kecenderungan pada toxic negativity yang juga tidak rasional. Keduanya sama-sama tidak rasional, namun praktik bersyukur memberi benefit yang besar untuk otak yang lebih optimal.
Scientific research reveals that practicing gratitude physically rewires your brain.
Expressing gratitude is far more than a polite gesture; it is a biological catalyst that physically reshapes the human brain. Through the process of neuroplasticity, consistently focusing on appreciation strengthens neural circuits linked to emotional regulation and resilience. This habit triggers the immediate release of dopamine and serotonin—the body’s natural feel-good chemicals—while simultaneously lowering levels of the stress hormone cortisol. By activating the prefrontal cortex and the hypothalamus, gratitude provides a natural boost to mental health, effectively training the mind to prioritize well-being over distress.
Beyond immediate mood improvements, a dedicated gratitude practice shifts the brain’s fundamental operating mode from survival to growth. While the human brain is naturally wired for threat detection, intentional thankfulness trains it to scan the environment for opportunities and positive outcomes instead. Whether through journaling or verbal acknowledgment, this repetitive focus builds lasting synaptic connections that make optimistic thinking an automatic habit. Over time, this mental shift fosters a more balanced emotional state, proving that the simple act of noticing the good can yield profound and permanent neurological benefits.
source: Emmons, R. A., & McCullough, M. E. (2003). Counting blessings versus burdens: An experimental investigation of gratitude and subjective well-being in daily life. Journal of Personality and Social Psychology.
21/02/2026
Otak manusia dalam evolusinya pernah terus membesar volumenya, hingga datangnya era pertanian. Setelah itu volume otak terus menyusut/mengecil, diduga karena otak mulai kurang digunakan lagi untuk berbagai tugas yang terlalu banyak. Spesialisasi pekerjaan mulai dijalankan manusia. Meski demikian kecerdasan bukan ditentukan oleh besarnya volume otak. Kecerdasan dapat tetap terjaga, berkat adanya kemampuan neuroplasticity di otak.
Lalu bagaimana dengan era Artificial General Intelligence yang bakal segera menggantikan fungsi otak manusia dalam pengambilan keputusan yang amat penting bagi kemanusiaan? Apakah volume otak manusia akan turun drastis atau bagaimana?
A man is living a normal life despite missing 90% of his brain.
In a discovery that has stunned the global medical community, a 44-year-old French civil servant was found to be living a perfectly functional life with only a thin layer of brain tissue remaining. After seeking treatment for mild leg weakness, brain scans revealed his skull was almost entirely filled with cerebrospinal fluid, a condition known as hydrocephalus. Despite losing approximately 90% of his brain volume over decades, the man was a married father of two holding steady employment, proving that the human body can adapt to neurological conditions previously thought to be fatal or profoundly disabling.
This extraordinary case provides compelling evidence for neural plasticity—the brain's incredible ability to reorganize and redistribute its functions. Cognitive psychologists like Axel Cleeremans argue that consciousness may not reside in a specific physical location but instead emerges from distributed networks that learn to adapt over time. While the average adult brain houses roughly 86 billion neurons, this man’s mind persisted through a small fraction of that number, challenging rigid scientific theories and suggesting that the organization of neural networks is far more important than physical mass.
source: CBC News. Scientists research man missing 90% of his brain who leads a normal life. Canadian Broadcasting Corporation.
05/02/2026
MAKANAN KHAS THE BLUE ZONES DAN OTAK ANTI-STRES
05/02/2026
MENGAPA OTAK BUTUH KONEKSI SOSIAL?